Indonesia Wujudkan Hilirisasi Industri Hingga Wisata Medis

| 415 views

LAMPUNGNEWSPAPER.COM – SIAPA yang tak kenal Luhut B. Pandjaitan, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves). Mendengar nama mantan Komandan Pertama Detasemen 81 ini, tak ayal membuat orang ingin berkomentar. Entah itu negatif. Dan, banyak juga yang memang positif. Pandangan berbeda itu, karena Ia termasuk menteri yang dinilai multitalenta. Walhasil, ada pula yang menyebutnya menteri segala urusan.

 

Terlepas dari itu, bapak empat anak ini, kini sedang dipercaya Presiden Joko Widodo untuk mendongkrak pendapatan negara, melalui program transformasi ekonomi: beberapa diantaranya hilirisasi industri dan wisata medis. Tujuan utama transformasi ekonomi ini, setidaknya mendongkrak Pendapatan Perkapita mecapai target 9.980 pada 2030.

 

Program transformasi ekonomi itu disampaikannya dihadapan ratusan pimpinan media cetak, online, televisi, dan radio yang bernaung di bawah PT Wahana Semesta Merdeka (WSM) dan DI’sway, melalui Meeting Zoom, Senin (10/1/2022). Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, sebagai Komisaris Utama PT WSM hadir langsung di ruang kerja Menko Marves, selaku moderator. Sekaligus sebagai agenda pre-launching jaringan DI’sway National Network (DNN).

 

Hilirisasi industri itu, kata Luhut, dimulai dengan membanguan tren Green Economy Industry, dengan mengembangkan industri semi konduktor/chip dan ekosistemnya, Baterai EV, serta Sofware Enginering. Setidaknya, diketahui industri tersebut saat ini sedang dibangun di Kalimantan Utara dan sudah dilakukan Groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo akhir tahun 2021 lalu. Hilirisasi industri yang dipusatkan disana, diantaranya pengolahan nikel dari bahan mentah menjadi barang jadi berupa batere, serta berbagai kegiatan produksi lain yang berkaitan dengan besi, alumunium, tembaga, dan bahan tambang lain.

 

“Hilirisasi Industri ini akan menjadikan Negara kita tidak mengandalkan komoditas bahan mentah untuk ekspor. Begitu pun mimpi kita untuk memiliki industri nikel terbesar di dunia, akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan,” ujar menteri Kabinet Indonesia Maju ini.

 

Dalam pemaparannya, Luhut yang dibantu Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Septian Hario Seto dan Staf Khusus Menteri Bidang Hubungan Internasional dan Perjanjian Internasional M. Firman Hidayat menjelaskan, hilirasi telah membantu kinerja neraca transaksi berjalan. Pada 2021 misalnya, Indonesia mencatatkan ekspor hingga USD 25 miliar. Salah satunya ditopang dari produk besi dan baja yang mencapai USD 19 miliar, atau meningkat 76 persen. Atas pencapaian itu, defisit necara perdagangan dengan China menurun sebesar 40 persen -Indonesia ekspor besi dan baja. “Tanpa adanya proyek hilirisasi, defisit neraca transaksi akan lebih besar,” imbuhnya.

 

Lurut menyebutkan, motor hilirisasi berikutnya, berada pada kawasan industri Kalimantan Utara, yang memiliki luas area 16.400 hektare dan berpotensi menjadi 19 ribu hektare pada tahap I dan 30 ribu haktare ditahap II. Jenis industri yang akan dibangun adalah green alumunium, besi, polysilicon, graphite, kemudian jenis baterai baru yakni LFP, petrokimia, hingga solar panel. Kawasan industri Kalimantan Utara (Kaltara) itu juga akan ditopang dengan pembangunan pelabuhan, bandara, hotel dan akomodasi karyawan hingga poletiknik dan balai latihan kerja.

 

Seperti diketahui, green industri Kaltara sendiri mulai konstruksi di tahun 2021 dan akan mulai dioperasikan secara komersil pada 2023. Proyek ini, digadang-gadang mampu memproduksi petrokimia dengan kapasitas 4,16 juta ton, electronic alumina 3 juta ton, besi 5 juta ton, jenis baterai baru LFP 265 giga watt hour (GWH), industri silicon 1,2 juta ton, polycristalline silicon 0,2 juta ton.

 

Hilirisasi industri juga akan membuat struktur ekonomi Indonesia menjadi lebih kompleks dan tidak lagi didominasi sektor agrikultur seperti sawit, dan lainnya. Direncanakan, hilirasasi industri Indonesia akan dilakukan dengan tiga hal. Yakni, membangun basis industri bernilai tambah tinggi untuk mendukung green economy. Industri tersebut adalah semikonduktor atau chip beserta ekosistemnya, mobil listrik, juga software engineering. Industri ini, juga menjadi sumber energi rendah emisi untuk industri bernilai tambah tinggi. Kemudian, membantuk talent pool yang berkualitas, melalui program penjaringan lulusan teknik dan sains untuk diarahkan pada perusahaan kelas dunia, dibidang teknologi.

 

Luhut B. Pandjaitan bersama Komisaris Utama PT WSM Dahlan Iskan, di ruang kerja Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Senin (10/1). Foto Ist

 

Selain pembangunan industri, Luhut juga membocorkan program lainnya, yang pernah disampaikannya ke Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Rencana itu, terkait pembangun Rumah Sakit International di Bali. Rumah sakit ini diproyeksikan akan menjadi tujuan medical tourism dan Wellness Tourism. Digalakannya pembangunan wisata medis ini, setalah dilakukannya kajian bersama timnya, lebih kurang 20 orang, yang merupakan kaum milenial.

 

Dalam pemaparannya, setidaknya sekitar 60 persen wisata medis Malaysia berasal dari Indonesia dan sebesar 45 persen orang Indonesia menggunakan jasa kesehatan di Singapura. Maka, dari itu, pihaknya memandang perlu mendirikan rumah sakit internasional yang dikelola oleh pemerintah -sementara ini di Sanur, Bali. Memang, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Roland Berger, ada tiga daerah berpotensi jadi wisata medis di Indonesia: Jakarta, Bali, dan Medan.

 

“Indonesia Health Tourism Board (IHTB) tujuan dibentuknya untuk menaungi dan mengembangkan wisata medis di negara ini. Adanya tren positif kesadaran masyarakat Indonesia, terhadap masalah kesehatan, menandakan sektor kesehatan memiliki peluang investasi yang menjanjikan,” tandasnya. (Aprohan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *