Pelayanan RSUDAM Lamban, Pengecekan Covid-19 Jangan jadi Alasan

| 472 views

LAMPUNGNEWSPAPER.COM. BANDARLAMPUNG – Pelayanan dalam penanganan pasien kritis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) yang dinilai lamban membuat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung angkat bicara.

Anggota Komisi V DPRD Lampung, Budhi Condrowati mengatakan, pihaknya akan segera memanggil pihak RSUDAM untuk membahas terkait pelayanan petugas rumah sakit yang lambat dalam menangani pasien yang kritis (darurat).

“Iya itu sudah kita bahas dengan Komisi V DPRD Lampung dan insy Allah secepatnya atau sekitar akhir Maret akan dipanggil untuk melakukan rapat dengar pendapat atau RDP,” kata Budhi Condrowat kepada Lampung Newspaper, Rabu (3/3) malam.

Ia mengatakan kalau berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit harus memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap kepada pasien yang sedang kritis atau pun tidak kritis.

“Memang seharusnya petugas RSUDAM memberikan pelayanan yang baik dan cepat. Memang benar sebelum masuk ruang rawat pasien harus diperiksa terlebih dahulu ada Covid atau tidaknya, tapi jangan terlalu lama nanti kalau jantungan atau kritis gimana,” ucapnya.

Budhi Condrowati menekankan kepada pihak RSUDAM untuk meningkatkan kinerja terhadap pelayanan masyarakat, terutama kepada pasien yang masuk IGD. “Jangan sampai pengecekan apakah pasien tersebut ada Covid-19 dijadikan suatu alasan dalam menangani pasien yang kritis,” tegasnya.

Sementara, Wakil Direktur Keperawatan Pelayanan dan Penunjang Medik, dr. Mars Dwi Tjahyo menyebutkan, sesuai SOP di Instalasi Lab Patologi Klinik RSUDAM, pemeriksaan antigen dilakukan sesuai jam pengambilan sampel yang telah ditetapkan.

Adapun jam yang ditetapkan yaitu pada pukul 06.00, 10.00, 13.00, 16.00, 20.00 dan 23.00 WIB. “Hal ini dilakukan karena untuk pemeriksaan rapid antigen, diperlukan pemakaian APD lengkap serta persiapan alat dan regensia,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, pasien bernama Iswanto, mengalami kecelakaan tunggal di Dusun VI, Kelurahan Sungai Langka, Pesawaran, sekira pukul 00.00 WIB, Sabtu (28/2). Pasien mengalami benturan dibagian kepala belakang sebelah kiri, sehingga mengeluarkan darah dari lubang telinga sebelah kiri.

Pasien sempat dilarikan ke RS GMC Pesawaran. Namun, pihak RS GMC mengaku tak sanggup, karena tidak ada peralatan untuk melakukan pengecekan. Kemudian, pasien dirujuk ke RS Bintang Amin. Sayangnya, sampai disana RS Universitas Malahayati ini pun mengaku tak sanggup dan pasien dirujuk kembali ke RSUDAM.

Sesampainya di IGD RSUDAM sekira pukul 01.41 WIB. Pasien disambut oleh dua orang petugas IGD dengan berpakaian lengkap alat pelindung diri (APD) dengan dilakukan tindakan memasang impus dan disuntik infeksi.

Setelah itu petugas, meninggalkan pasien dengan keadaan darah tetap menetes dari telinga dan kepala belakang atas kuping. Petugas hanya memberikan kapas kepada orangtua pasien untuk membersihkan darah yang masih keluar dari lubang telinga.

Pasien hanya terbaring diatas tempat tidur darurat di ruang lobi IGD, tanpa mendapatkan penanganan khusus lainnya. Hingga akhirnya sekira pukul 06.00 WIB baru datang pemeriksaan tes antigen, dengan mengambil sampel darah dan sampel ingus.

Salah satu kakak pasien bernama Misyadi mengaku syok terkait penanganan RSUDAM, pasalnya adiknya itu belum juga mendapatkan penanganan insentif lainnya, meskipun darah masih keluar dari lubang telinga.

“Ya, saya syok dengan penanganan di RSUDAM karena adik saya ini belum ada kejelasan mau diberi tindakan apa. Kita sudah menunggu sampai jam 8 pagi, belum juga ada hasil,” akunya kepada Lampung Newspaper.

Kemudian, Lampung Newspaper bersama Misyadi menanyakan tindakan selanjutnya kepada petugas IGD, salah satu petugas menyebutkan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terkait hasil swab pukul 06.00 yang lalu.

Disebutkan petugas perempuan lainnya, berdasarkan prosedur petugas lab akan mengambil sampel swab pasien pukul 22.00 WIB dan 06.00 WIB. Kemudian, pihaknya tidak dapat memastikan berapa lama hasil keluar.

Pihaknya akan melakukan tindak lebih lanjut ketika, hasil swab sudah keluar. Walhasil, setelah didesak kembali oleh keluarga pasien, barulah diinformasikan pada pukul 11.00 WIB, hasilnya menyatakan pasien negatif. Petugas akhirnya baru melakukan pengecekan scaning terhadap pasien sekira pukul 11.30 WIB.

“Kami sudah bekerja sesuai SOP, soal hasil swabnya kapan keluarnya kami tidak tahu, sampai menunggu pemberitahuan dari petugas lab, sudah kami tanyakan beberapa kali tapi disebutkannya baru mau dicek, karena banyak yang harus dicek,” kata salah satu petugas yang mengaku penanggung jawab sift pagi IGD.

Menurut Misyadi, adiknya itu baru dipidahkan ke ruang rawat pasien kelas III sekira pukul 13.30 WIB, dengan tidak mendapatkan informasi terkait tindakan selanjutnya.

Dirinya kembali menyayangkan tindakan IGD RSUDAM yang terkesan lamban. Pasalnya rapid antigen baru keluar siang hari, sedangkan adiknya itu masuk pukul 02.00 WIB dini hari.

“Untung adik saya tidak terjadi kenapa-kenapa, dia terbilang kuat, gimana dengan pasien yang gawat darurat lainnya, yang sangat lemah, ketika harus menunggu hasil swab yang terbilang lama, keburu meninggal anak orang,” sesalnya.

Terkait standar operasionel prosedur (SOP) pelayanan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana enggan mengomentari terkait tidakan yang terbilang lamban. Menurutnya, semua pasien yang akan masuk ruang IGD, harus diperiksa terlebih dahulu, untuk memastikan apakah pasien bebas dari virus corona.

“Memang semua yang masuk IGD harus dipastikan dulu tentang Covid-19-nya, agar untuk penentuan ruang perawatan, tentu sambil ditangani keluhannya,” kata Reihana kepada Lampung Newspaper saat dimintai keterangan, Minggu malam.

Reihana menjelaskan kronologis penanganan pasien tersebut. Pasien Iswanto masuk IGD RSUDAM pukul 01.41 WIB. Pihak RS mendiagnose cedera kepala sedang. Kesadaran baik. GCS 15. Tindakan yang dilakukan Wound Toilet (pembersihan luka). Therapi yang diberikan bwerupa Infus RL + Ketorolac, Kalnex 1 ampul pukul 01.50, Ranitidin 1 ap pukul 01.50, ATS 1 ampul pukul 01.50.

Pengambilan sampel oleh petugas laboratorium berupa tindakan DL, UC, Elektrolit, Rapid Antigen pada 06.00 WIB. Jam 10.30 Rapid Antigen baru selesai dengan hasil Negatif. Pukul 11.00 dilakukan pemeriksaan Scaning Kepala dan Thorak. Pukul 11.30 hasil scaning Konsul ke dokter Bedah Syaraf.

“Advis tidak perlu tindakan hanya dengan konservatif. Jam 13.30 pasien pindah ruang Rawat Inap Bedah. Demikian kronoligis pasien Iswanto,” tulisnya, seraya menyebutkan sudah dilakukan penanganan berupa CT Scan. (san/apr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *