Inflasi Provinsi Lampung Masih Terkendali

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF
BANDARLAMPUNG - Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Bulan Januari 2017 masih lebih rendah jika dibandingkan Nasional, meskipun mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari rata-rata historisnya selama 5 tahun terakhir.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Arief Hartawan mengatakan, Inflasi IHK tercatat mencapai 0,82% (mtm) terutama bersumber dari kenaikan harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices), sejalan dengan kebijakan peningkatan biaya administrasi perpanjangan STNK serta penyesuaian tarif listrik rumah tangga mampu dengan daya 900 VA (R-1/900 VA-RTM).
"Selain itu inflasi dari kelompok pangan (volatile food) masih cenderung meningkat terutama yang bersumber dari beras dan cabe rawit," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima Lampung NewsPaper, kemarin.
Secara tahunan, Arief Hartawan menyampaikan, inflasi Provinsi Lampung (3,29%) masih terjaga pada level yang cukup rendah dibawah tingkat inflasi Sumatera dan Nasional, yang masing-masing mencapai 4,75% dan 3,49%.
"Inflasi pada kelompok administered prices (1,27%, mtm) dan inflasi volatile food (0,52, mtm)," ujarnya.
Tingginya inflasi, kata Arief Hartawan, pada kelompok administered prices terutama disebabkan kenaikan biaya administrasi perpanjangan STNK yang mencapai 100% - 167%, seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2016 di bulan Januari 2017 dengan sumbangan inflasi sebesar 0,23% dan menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kota Bandarlampung.
"Penyesuaian tarif listrik juga secara bertahap melalui pencabutan subsidi untuk golongan rumah tangga mampu 900 VA, menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi baik di Kota Bandarlampung dan Kota Metro," terangnya.
Adapun peningkatan inflasi, lanjut Arief Hartawan, pada kelompok volatile food Provinsi Lampung didorong oleh komoditas beras dan cabe rawit, yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,08% dan 0,03%.
"Peningkatan harga beras dan cabe rawit terutama terjadi di Kota Bandarlampung, sementara di Kota Metro dipicu oleh peningkatan harga komoditi cabai merah, bayam, dan tomat sayur. Sebaliknya inflasi kelompok inti (core) mengalami perlambatan dari bulan sebelumnya menjadi 0,7c% (mtm)," imbuhnya.
Perlambatan tersebut, sebut Arief Hartawan, disebabkan deflasi pada kelompok sandang dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga meskipun pada periode yang sama terdapat kenaikan tarif pulsa telepon seluler. "Secara spasial dibandingkan dengan kota-kota di Sumatera dan Nasional, Kota Bandarlampung dan Kota Metro tergolong memiliki inflasi yang cukup rendah," tuturnya.
Kendati secara umum inflasi IHK Januari 2017 masih cukup terkendali, Bank Indonesia memandang risiko tekanan inflasi kedepan yang bersumber dari volatile food dan administered prices tetap perlu diwaspadai. Pertama, faktor cuaca yang mempengaruhi berkembangnya organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mengganggu produksi hortikultura terutama cabai rawit dan cabai merah seperti virus kuning yang sempat merusak sentra produksi cabai di Sumatera Utara dan beberapa wilayah lainnya di Sumatera.
Selain itu, perlu juga untuk mencermati dampak dari curah hujan yang diperkirakan masih cukup tinggi di semester I 2017 yang akan berpengaruh terhadap produksi hortikultura, termasuk cabai. Khusus untuk beras, penting untuk segera mengantisipasi penyebaran hama wereng yang telah terjadi dibeberapa wilayah khususnya sentra produksi beras di Lampung agar tidak mengganggu target produksi beras tahun ini.
Kedua, tekanan inflasi yang bersumber dari kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah. Sebagaimana diketahui, pemerintah berencana untuk menyesuaikan harga BBM yang dipengaruhi peningkatan harga minyak dunia. Selain akan berdampak langsung terhadap harga BBM ini juga akan berpengaruh pada tarif angkutan penumpang dan barang.
Ketiga, kebijakan penyesuaian tarif listrik 900 VA yang diterapkan secara bertahap mulai Januari 2017 sampai dengan Juli 2017 serta implikasi dari tarif adjustment yang diterapkan untuk kelompok pengguna listrik lainnya seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan tarif listrik ini juga akan mempengaruhi tekanan inflasi dari kenaikan biaya produksi (cost push).
Tambahnya, dalam rangka mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang masih cukup besar kedepan, langkah-langkah pengendalian inflasi komoditas pangan menjadi sangat penting untuk menetralisir tekanan inflasi yang bersumber dari administered prices. (rls/din/asf)