Kebutuhan Pembiayaan Mencapai Rp 1.649 Triliun

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF
INDUSTRI financial technology (fintech) masih harus menghadapi tantangan berat sepanjang 2017. Legalitas fintech baru saja diakui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bank sentral. Namun, dalam bisnisnya, pinjaman macet menuntut industri baru itu makin prudent.
Deputy CEO PT Digital Alpha Indonesia (UangTeman) Rio Quiserto mengungkapkan, kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) UangTeman naik dalam satu tahun terakhir.
Pada 2016, NPL kurang dari tiga persen. Karena itu, fintech tersebut meningkatkan pencadangan. ’’Selain untuk mengantisipasi kenaikan NPL, memang pinjaman yang kami salurkan meningkat,’’ ujarnya, kemarin.
Kenaikan NPL itu terutama disebabkan peminjam uang yang mengalami masalah. Mulai karena dipecat kantornya, pindah alamat tanpa pemberitahuan, hingga meninggal.
Akibatnya, fintech harus benar-benar berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman. Rio menyebutkan, dari aplikasi pinjaman yang masuk, hanya 30 persen yang lolos.
’Ini risikonya tinggi karena tanpa agunan. Kami juga ingin mempercepat pencairan dana dari dua hari menjadi 15 menit saja,’’ kata Rio.
Berdasar data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini total kebutuhan pembiayaan mencapai Rp 1.649 triliun. Kapasitas pinjaman yang dimiliki industri jasa keuangan tradisional sekitar Rp 660 triliun atau 40 persen dari kebutuhan.
Meski bisnis fintech lending cukup berisiko, potensi pembiayaannya masih sangat besar. Terlebih, penetrasi penggunaan teknologi terhadap masyarakat makin tinggi. Tahun lalu, pinjaman yang disalurkan UangTeman mencapai Rp 35 miliar. Tahun ini, jumlah pinjaman diharapkan bisa meningkat menjadi Rp 100 miliar.
CEO & Co-Founder UangTeman Aidil Zulkifli menyatakan, industri fintech bakal terus berkembang. Pihaknya bahkan berencana membuat UangTeman menjadi perusahaan start-up terbuka.
’’Kami ada rencana IPO (initial public offering) dalam waktu 5–6 tahun mendatang,’’ ungkapnya. (jpnn/din)